Biasanya kalo orang menikah pasti mengharapkan keturunan kan? Iya ga? Tapi pemahaman ini tidak berlaku bagi Iyus, kawan sekaligus karyawan saya. Iyus sudah cukup lama menikah, sekitar 6 tahun kalo ga salah, tapi sampe sekarang mereka belom juga memiliki anak. Nah, kalo ditanya kenapa? Iyus selalu mengatakan bahwa dia dan istrinya emang ga berminat untuk punya keturunan.
“Gue sama istri udah komit ga mau punya anak.” kata Iyus pada saya.
“Kok aneh? Ngapain menikah kalo ga pengen punya anak?” tanya saya penasaran.
“Gue menikah bukan karena pengen punya anak tapi pengen punya temen hidup” Begitu selalu alasan yang dilemparkan olehnya.
“Kan lo tetep bisa punya temen hidup biarpun udah punya anak?” tanya saya belom meresapi pemahamannya itu.
“Bini gue itu adalah temen hidup. Gue seneng pas bangun tidur ada bini di sebelah gue. Gue seneng bisa sarapan bareng, makan siang bareng, kondangan bareng, dugem bareng, saling curhat dan malamnya kita tidur bareng lagi.”
“Hmm gitu ya?” kata saya sambil ngangguk-ngangguk padahal sih tetep aja ga mudheng.
“Iya. Begitu juga sebaliknya dengan bini gue. Dan kami berdua udah merasa melengkapi satu sama lain dan kami mau jadi temen hidup selamanya tanpa direpotkan oleh adanya anak.” jawabnya lagi.
Iyus dan istrinya memang masih muda. Keduanya seneng dan hobby banget dugem. Konon di tempat dugem jugalah kedua sejoli ini dipertemukan. Seperti mur ketemu baut, keduanya langsung cocok sehingga mereka berdua bersama-sama menikmati hidup. Begitu cocoknya sehingga mereka memutuskan untuk menikah.
Saya ga bisa menyalahkan mereka. Bahkan saya cenderung kagum sama orang yang berani mempunyai pilihan, terlepas dari apa yang dipilihnya. Dulu temen saya pernah cerita, ga tau cerita betul apa kagak. Ceritanya begini; Perdana Menteri Kanada, Pierre Trudeau konon sering dipusingkan sama kelakuan istrinya Margarette Trudeau. Pasalnya Margarette demen banget dugem. Seperti umumnya pedugem lainnya, Margarette kalo udah tipsy jogetnya bisa heboh banget sampe naik ke atas meja segala.
Kelakuan Margarette ini tentu jadi sasaran empuk wartawan di seluruh dunia. Akibatnya berita dan fotonya yang lagi joget gila-gilaan terpampang di berbagai media di seluruh dunia. Pierre tentunya pusing bukan kepalang ngeliat kelakuan istrinya. Istri presiden kan seharusnya wibawa, anggun dan ja’im, ini kok malah loncat-loncat di atas meja dengan gaya sensual. Ga pantes banget kan?
Akhirnya Perdana Menteri Kanada itu memberikan ultimatum dan meminta istrinya untuk memilih, berenti dugem atau bercerai sebagai suami istri. Dan apa jawaban Margarette? Believe it or not! Dia memilih untuk bercerai dengan suaminya. Bayangin! Dia memilih bercerai dengan seorang Presiden demi kebebasan bisa dugem ck…ck…ck…. Saya kagum banget sama keberaniannya memilih. Tolong digarisbawahi ya! Saya kagum sama keberaniannya memilih. Bukan kagum atas pilihannya. Beda banget tuh!
Kembali ke Iyus. Dia asli orang Padang sama kayak saya. Suku Minang kan umumnya sangat keras terhadap hal-hal yang berbau najis. Tapi Iyus ini emang unik. Dia emang asli orang Padang dan lulusan sekolah islam Al Azhar. Kemampuannya mengaji ga tercela tapi tingkah laku kesehariannya tidak mewakili itu semua. Selain ga pernah sholat, dia juga hobi banget makan babi di Restoran Kenanga yang tekenal dengan masakan babinya yang enak.
Keterkejutan saya belom berhenti. Suatu hari saya melewati kubikelnya Iyus. Di sana saya ngeliat seekor anjing memakai baju dan sepatu segala. Mengetahui Iyus bawa anjing ke kantor saya heran bukan main.
“Coba bawa ke luar ini anjing. Ga boleh ada anjing di kantor.” kata saya.
“Wah jangan gitu dong Om Bud. Ini bukan anjing biasa.” kata Iyus.
“Maksud lo?” tanya saya.
“Ini bukan anjing biasa. Ini anak gue.” jawab Iyus lagi.
Saya heran banget mendengar jawabannya. Mata saya memandang Iyus lalu berpindah ke paras si anjing lalu pindah lagi ke Iyus. Anaknya? Kok ga mirip ya? Biasanya kan bapak sama anak ada kemiripan. Saya membatin.
“Anak lo? Katanya lo ga mau punya anak?” tanya saya mulai menginterogasi.
“Iya. Tapi kalo anak yang ini gue mau. Dia udah gue adopsi jadi anak.”
“udah lo adopsi? Adopsinya pake surat-surat ga?” Saya bermaksud bercanda dengan pertanyaan itu. Tapi jawababn Iyus ternyata cukup mencengangkan.
“Iya ada surat-suratnya. Semua dokumennya lengkap.”
Karena percakapan semakin absurd, saya ajak Iyus untuk berbicara empat mata. Dia mengikuti masuk ke ruangan saya lalu kami duduk berhadapan seperti orang lagi wawancara pekerjaan. Kami berbicara dari hati ke hati seputar adopsi anaknya yang memiliki ekor dan berkaki empat itu. Mulanya saya berpikir dia terlalu sayang sama anjingnya sehingga sudah dianggap seolah-olah sebagai anak beneran. Akan tetapi setelah berbicara panjang lebar ternyata kasusnya lebih serius daripada perkiraan saya.
“Buat lo mungkin ini cuma anjing, tapi buat gue Lena adalah anak perempuan gue.”
“Lena?”
“Iya nama anak perempuan gue ini Lena. Cantik kan namanya? Sama cantiknya dengan wajahnya kan?” kata Iyus lagi sambil mencium-cium anak kesayangannya itu.
“Buat gue tetep dia seekor anjing. Dan anjing ga boleh masuk ke dalam kantor. Kotor!”
“Anak gue ga kotor. Gue mohon dengan sangat supaya dia dibolehkan masuk.”
“Ga bisa. Anjing itu…
“Anak! Bukan anjing.” potong Iyus.
“OK anak lo tetep harus di luar. Kantor mana coba yang mengizinkan seekor anjing masuk ke dalam kantor?”
“Om Bud!” Iyus mulai emosi.” Gimana rasanya kalo lo datang sama Leon ke kantor tapi Leonnya ga boleh masuk ke dalam? Gimana rasanya perasaan Om Bud sebagai seorang ayah?”
“Loh? Beda dong, anak gue kan manusia. Yang di pangkuan lo kan anjing?”
“Pointnya bukan manusia apa bukan. Kita bicara soal anak.”
“Maksud lo gimana sih?” Saya mulai bingung.
“Leon itu anak lo. Dan Lena anak gue. Jadi mereka berdua harus punya keleluasaan yang sama.”
Sial bener! Anak gue seganteng itu disamain sama anjing pudel. Tapi karena melihat mukanya yang sungguh-sungguh, seakan-akan dia memang seorang ayah yang terluka karena anaknya dihina, saya jadi ga tega juga. Setelah berpikir sekian lama akhirnya saya membuat keputusan yang mungkin langka sekali ada di sebuah perusahaan.
”OK. Kalo dia berak sekali aja, anjing itu ga boleh dibawa ke kantor lagi.” kata saya sambil menghela napas panjang.
“OK!” Iyus menyambut perkataan saya tanpa berpikir lalu disambung, “Tapi sekali lagi gue revisi, ini anak gue. Bukan anjing.”
“Dan kalo anjing itu berak….”
“Anak. Bukan anjing.” Kembali Iyus memotong ucapan saya. Rupanya, bagi dia ada perbedaan besar antara makna ‘anak’ dan ‘anjing’ walaupun sebenernya kita membicarakan obyek yang sama.
“OK, kalo anak lo berak, lo yang harus bersihin kotorannya. Ga boleh nyuruh office boy. Gimana?”
“Deal” Sahut Iyus girang bukan alang kepalang.
Rupanya naluri sebagai orangtua cukup mendera pasangan itu. Akibatnya kebutuhan akan adanya seorang anak sangat dibutuhkan. Sayangnya pasangan ini tetap bertekad untuk tidak mempunyai anak berbentuk manusia. Dan sebagai jalan ke luar mereka memilih anak anjing sebagai penganti kebutuhan itu. Aneh banget…
Untungnya ternyata Lena memang anjing yang luarbiasa manis. Dia ga pernah rewel, ga pernah bikin kotor dan semua karyawan segera jatuh cinta kepadanya. Kecuali Maya, seorang Graphic Designer di kantor kami. Walaupun postur dan parasnya kayak anak kecil, sebenernya Maya udah punya suami dan anak perempuan berumur 4 tahun. Saat itu Iyus dan Maya lagi tarik urat.
“Masa anjing lu dikasih nama Lena?” teriak Maya.
“Anak. Bukan anjing.” jawab Iyus.
“Lu ganti gih nama anak lo! Anjing kok namanya Lena?” serang Maya lagi.
“Suka-suka gue dong mau kasih nama apa?” sahut Iyus ga kalah ketus.
“Iya tapi nama lain kan banyak? Kenapa harus Lena?”
“Kenapa lu jadi ngurusin nama anak gue?”
“Soalnya nama anak perempuan gue Lena juga?”
“Hah? Kok bisa sama gitu ya?”
“Nah jadi elo tau dong perasaan gue sebagai seorang ibu?”
Iyus diam sejenak lalu berkata lagi, “Gue ngerti perasaan lo. Tapi gue ga mau ganti nama anak gue. Sorry.”
“Loh lo jangan gitu dong? Gimana perasaan anak gue, kalo gue bawa ke kantor terus ketemu anak lo?”
“Itu urusan lo. Masa gara-gara nama sama aja gue harus cari nama lain?”
“Dasar lo ga punya perasaan.” sahut Maya agak keras.
“Sorry. Gue udah nyaman sama nama Lena.” Iyus masih tetap berkeras.
“Mulai besok gue mau piara biawak. Gue akan kasih nama Iyus!” teriak Maya emosi sambil pergi meninggalkan Iyus.
Dan rupanya kasih sayang Iyus pada anaknya itu memang ga tanggung-tanggung. Rita, salah seorang staff yang sangat deket dengan Iyus suatu hari saya wawancara. Saya korek-korek sejauh mana hubungan Iyus dan Lena. Dan Rita pun bercerita soal Bapak dan anak anjingnya itu.
“Iya Om Bud. Iyus sayang banget sama anjingnya.”
“Itu gue udah tau. Tell me something new.” kata saya.
“Rasa sayangnya lebih hebat daripada anak beneran loh.”
“Masa? Misalnya gimana?” jawab saya.
“Om Bud tau ga? Bajunya Lena aja harganya Rp 350 ribu.”
“Hah? Yang bener?” tanya saya takjub bukan main.
“Serius Om Bud! Baju anjing emang mahal loh.” tambah Rita lagi. “Yang nyebelin di baju anjing itu ada tulisannya ‘You can’t afford me’ hehehehe.”
Ck…ck…ck…saya menggeleng-gelengkan kepala. Dengan perasaan campur aduk saya menatap kemeja saya yang harganya cuma Rp 85 ribu. Kemeja itu saya beli di factory outlet, RED, di Jalan Raya Puncak. Bayangin! Saya atasannya Iyus tapi baju saya harganya cuma seperempat harga baju anjingnya. Kampret!
“Gile? Dan dia ga cuma beli 1 set pakean kan?” tanya saya lagi.
“Wuuuh…dia beli banyak. Belom lagi topinya, sepatunya, ongkos salonnya. Biaya perawatan anjing kan gede banget.”
“Gitu ya…” gumam saya kehabisan kata-kata.
“Sebagian besar uang Iyus dan istrinya abis buat biayain Lena aja. Yah namanya juga anak satu-satunya hehehehe….” Rita geli sendiri sama omongannya.
Beberapa minggu kemudian Iyus datang ke ruangan saya. Waduh…saya langsung berdoa sama Tuhan yang maha kuasa, semoga dia tidak datang dengan urusan Lena lagi. Pusing saya…
“Om Bud. Saya mau resign dari MACS909.” katanya memulai percakapan.
“Oh ya? Kenapa?” tanya saya keheranan.
“Gue mau ngadu nasib kerja di Amerika.” katanya dengan suara mantap.
“Wah hebat. Gue dukung kalo memang itu alasannya.” kata saya setulusnya karena dari dulu saya pengen banget tinggal di luar negeri tapi ga pernah kesampean.
“Gue sama bini gue kan masih muda. Jadi harus berani bertaruh dalam hidup.”
“Betul! Percuma kita hidup kalo ga ada sesuatu yang dikejar.” sahut saya.
“Betul Om Bud. Kalo gagal pun minimal petualangan gue di Amerika pasti banyak gunanya sebagai bekal hidup.”
“Setuju! Minimal sekali dalam hidup, kita harus melakukan sesuatu yang penting.” saya menjawab.
“Bini gue udah di sana dari dua minggu yang lalu.” kata Iyus lagi.
“Oh ya? Kok ga berangkat bareng?”
“Gue masih ada masalah dengan perizinan. Jadi bulan depan baru bisa berangkat.”
“OK. ngomong-ngomong gimana nasib anjing lo? Siapa yang piara di sini?”
“Anak ah bukan anjing!” potong Iyus lagi.
“Iya anak deh…”
“Lena minggu depan berangkat naik Lufthansa Om”
“Oh ya? Sama siapa?”
“Sendiri. Semua diurus sama penerbangannya.”
“Oh? Baru tau gue kalo penerbangan ngelayanin penumpang non manusia.”
“Masa? Ampir semua penerbangan punya servis kayak gitu kok.”
“Gitu ya? Kenapa harus Lufthansa?”
“Gue udah bikin studi perbandingan dan menurut gue Lufthansa yang paling bagus. Untuk anak gue semuanya haruslah yang terbaik.”
“Ck..ck…ck lo sayang banget ya sama anjing lo.” kata saya kagum.
“Anak ah, bukan anjing!’ Lagi-lagi Iyus menukas, “Yah namanya juga sama anak sendiri. Om Bud juga pasti begitu juga kan sama Leon?”
Kampret! Udah dua kali anak gue yang ganteng itu disamain sama anjing pudel. Sial bener! Tapi karena Iyus memang sangat serius menganggap anjingnya sebagai anak yah saya diem aja. Ga enak juga kalo ngeributin soal sepele kayak gitu kan?
Sebulan berlalu sejak pembicaraan itu tapi Iyus belom juga menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ga tau kenapa, saya juga ga tanya. Yang saya tau adalah kecintaannya pada anaknya bener-bener makin ga masuk akal. Bener kata Rita, rasa sayangnya kayaknya lebih besar daripada kayak anak beneran.
Contohnya ketika saya baru aja pulang dari sholat jumat. Kebetulan saya pulang sendiri sementara temen-temen yang lain pada langsung makan di luar. Jadi dari mesjid cuman saya doang yang balik ke kantor, karena bini saya selalu ngebawain makanan dari rumah. Biasanya saya suka makan siang bareng di common area sama temen-temen yang juga bawa rantang makanan. Common area adalah sebuah ruangan yang memang didesain untuk makan siang, merokok atau sekedar brainstorming.
Sebelom makan saya pergi ke ruangan saya dulu buat narok sejadah. Ketika melewati ruangan kreatif, saya mendengar seseorang berteriak-teriak dengan suara parau dan memilukan.
“Lena! Lena!! Ini Papi Lena!! Lenaaaaa!!!!”
Tau ga apa yang terjadi? Iyus sedang chatting pake webcam melalui Yahoo messenger. Di layar komputernya terlihat anjingnya, Lena, sedang bengong. Anjing itu menengok ke kiri, lalu ke kanan, sama sekali ga keliatan sedang memandang Iyus. Tapi Iyus ga peduli. Seakan sedang chatting dengan manusia, dia masih saja berteriak dengan suara memilukan.
“Lena ini Papi Lena! Lena kangen ga sama Papi. Lenaaaaa!!!” pekik Iyus dengan suara serak karena dipenuhi oleh rasa rindu pada anaknya yang berbulu itu.
Tiba-tiba di layar, nampak wajah seorang perempuan yang ternyata adalah isteri Iyus. Rupanya Lena sudah sampai di Amerika menyusul isteri Iyus. Rindu tak tertahankan membuat Iyus membeli kamera supaya bisa chatting sambil saling berpandangan dengan anaknya Lena.
“Udah dulu ya Papi. Lena masih jetlag nih. Biar Mami nemenin Lena bobo ya?”
“OK Mami. Bye Lena. Papi sayang kamu. Muach…muach…muach!” kata Iyus sambil menempelkan bibirnya yang tebal di layar komputer.
“Woiii! Udah gila lo yee Yus?” kata saya dari belakang Iyus.
“Eh Om Bud. Udah berapa lama elo di belakang gue?” tanyanya kaget. Mukanya berubah jadi merah karena kemalu-maluan.
“Baru 5 detik. Kayaknya lo kangen banget sama anjing lo.”
“Anak! Bukan anjing ah! Hehehe iya Om Bud. Sedih banget gue pisah sama Lena.”
“Kalo emang segitu sayangnya, kenapa sih lo ga bikin anak beneran? Kan anak manusia lebih lucu daripada anak anjing?” tanya saya penasaran.
“Begini Om! Om Bud kan sholat. Artinya Leon bisa disuruh sholat juga karena Om Bud bisa memberi contoh yang baik.”
“Maksud lo?”
“Gue islam tapi ga sholat. Gue islam tapi makan babi. Bagaimana gue bisa memberi contoh yang baik ke anak gue? Punya anak manusia itu berat banget tanggungjawabnya.”
“Ya sholat dong? Dan jangan makan babi. Gampang kan?”
“Ga semudah itu. Sebagai orangtua kan kita harus ngajarin anak kita jadi orang baik. Menanamkan budi pekerti, membuat anak kita bertaqwa, nah buat gue itu berat banget.”
“Makanya lo lebih nyaman miara anjing ya?”
“Kalo Lena kan jauh lebih gampang diurus. Gue ga perlu ngajarin Lena sholat. Ga perlu ngajarin dia ngaji, ga perlu ngajarin bahasa inggris, matematika, bahasa Indonesia, atau apalah yang susah-susah…”
“Hmmm ok deh.” Kata saya sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
Kepusingan gara-gara anak anjing ini ternyata terus berkepanjangan. Suatu hari, Mita, Finance Director kantor datang menemui saya.
“Mas Bud. Tadi Iyus datang ke ruangan saya.” katanya memulai percakapan.
“Ada hubungannya sama Lena ga?” tanya saya asal menebak.
“Loh kok Mas Bud bisa tau?” tanyanya surprise.
“Lucky guess.” Saya jarang bisa nebak dengan betul. Kalo soal tebak-tebakan biasanya saya selalu sial. Sekarang tebakan saya bisa betul karena hasilnya juga bukan keberuntungan.
‘Iya betul. Dia dateng ke ruangan saya sambil menggendong anjingnya.”
“Anak, bukan anjing hehehehe…” kata saya menirukan Iyus. Lalu melanjutkan, “Mau apa dia?”
“Iyus bilang dia ga jadi keluar dari kantor kita.”
“Loh gimana sih? Kok jadi orang ga konsisten gitu? Ga jadi dia ke Amerika?”
“Ga jadi. Karena di Amerika lagi krisis ekonomi dan lagi banyak PHK, katanya.”
“Lah? Kalo itu mah semua orang juga udah pada tau.”
“Iya tapi dia ga nyangka separah itu. Tadinya dia mau berangkat setelah isterinya dapet kerja. Di sana isterinya kan tinggal sama Omnya.”
“Emang Omnya ga bisa nyariin isterinya kerja?” tanya saya lagi.
“Justru Omnya juga kena PHK. Jadi Omnya malah ngajak isterinya Iyus pulang.”
Mita sejenak terdiam. Saya juga ikut-ikutan merenung. Krisis ekonomi global yang terjadi sekarang bener-bener ga disangka-sangka. Krisis ekonomi kali ini justru titik awalnya terjadi di sebuah negara super power seperti Amerika. Siapa yang kepikir bahwa hal ini bisa terjadi. Gara-gara mikirin hal ini, saya jadi jatuh kasihan sama Iyus. Kesian juga kalo ngebayangin dia ga punya pekerjaan sementara isterinya pastinya juga belom dapet pekerjaan sepulangnya dari negeri Paman Sam.
“OK. Iyus boleh terus kerja di sini.” kata saya mengambil keputusan.
“Setuju Mas. Saya juga kesian kalo dia sampe ga punya pekerjaan.” kata Mita.
“OK udah beres kan?”
“Cuma ada satu masalah lagi Mas Bud.”
“Masalah apa lagi?” tanya saya.
“Iyus minta kebijaksanaan kantor soal asuransi.”
"Ada apa dengan asuransi?".
“Iyus bilang, dia kan ga punya anak. Tapi Lena udah dia anggap sebagai anaknya…”
“Jadi?” Saya mulai cemas mendengar lanjutan kalimatnya.
“jadi dia minta Lena dikasih fasilitas asuransi kesehatan sebagai anaknya.” lanjut Finance Director saya.
Sejenak kami berdua terdiam. Saya kadang suka mikir, kenapa ya anak-anak saya pada aneh-aneh banget kelakuannya. Mau punya asuransi buat anjing kok minta fasilitas kantor? Makin dipikirin makin ga masuk akal. Makin dipikirin kok saya makin sewot jadinya.
“Yah ga bisa dong! Perusahaan kita udah terlalu bertoleransi sama keberadaan Lena. Apapun anggapannya tentang Lena bahwa dia bukan anjing tetep aja dia seekor anjing…”
“Sabar Mas Bud….” Mita saya berusaha momotong.
“Sampe kapanpun gue ga rela ngasih asuransi buat anak anjing. Biar dia sayang melebihi anak sendiri, biar dia butuh uang perawatan lebih mahal daripada anak beneran, itu resiko dia….” saya terus nyerocos.
“Tenang Mas Bud. Tenang…” Finance Director saya masih mencoba memotong.
“Mana bisa tenang? Permintannya udah keterlaluan. Udah untung ada asuransi di kantor bagi semua staff. Coba liat di perusahaan lain, masih banyak pegawai tetap yang ga mendapat fasilitas asuransi. Seharusnya dia bersyukur dengan apa yang ada. Bukannya malahan ngelunjak…” Mulut saya udah dol ga bisa berenti.
“Iya Mas Bud. Saya udah ngomong kok ke dia….” selak Mita lagi.
“Selain asuransi juga udah ada jamsostek. Banyak lagi fasilitas-fasilitas yang kita berikan pada semua staff. Kenapa mereka ga pernah ngeliat itu. Semua yang kita lakukan dan semua yang kita berikan selalu dianggap kurang. Masa kita harus kasih asuransi buat anak anjing? Di mana sih logikanya…”
Tiba-tiba saya tersadar kalo Mita ga nyelak saya lagi sehingga saya jadi ga enak sendiri. Setelah menghela napas panjang berkali-kali akhirnya emosi saya pun reda. Mita masih menatap saya dengan tersenyum-senyum, rupanya dia geli karena belom pernah dia ngeliat saya dipengaruhi emosi seperti itu sebelomnya.
Saya balas menatap dia, “Kamu mau ngomong apa tadi Mit?”
“Masalah ini udah selesai kok. Saya udah ngomong sama dia.” sahut Mita masih tersenyum.
“Kamu jawab apa soal permintaannya?”
“Ya jelas saya tolak dong.”
“Alhamdulillah…” jawab saya lega.
“Saya datang ke sini cuma ngasih pemberitahuan aja”
“Alhamdulillah…!”
“Kalo kitanya setuju pun, pasti perusahaan asuransinya yang ga setuju.” kata Mita lagi.
“Alhamdulillah….” kata saya lagi.
Sudah beberapa minggu ini kerjaan numpuk dan saya sibuk bukan main. Untungnya gangguan dari Iyus dan Lena udah ga ada lagi. Jadi saya bisa konsentrasi penuh pada kerjaan ini. Buat saya lebih baik kerjaan dateng gila-gilaan daripada ga ada kerjaan sama sekali. Pernah ga kalian membandingkannya? Percaya deh, ga ada kerjaan malahan lebih stress.
Tok…tok…tok…! Suara ketukan terdengar di pintu ruangan saya.
“Masuk!” teriak saya.
Ternyata Maya, Graphic designer saya yang dateng. Wah..ada urusan apa lagi nih. Terus terang belakangan ini saya suka paranoid kalo ada staff yang dateng.
“Yak silakan duduk. Ada apa Maya?” tanya saya membuka percakapan.
“Om Bud. Saya mau minta sesuatu boleh ga?” kata Maya sambil duduk di depan saya.
“Apa?” tanya saya. Waduh! Minta apa kira-kira ya nih anak? Semoga ga macam-macam deh.
“Saya tau kalo saya ini cuma pegawai kontrak.” Maya mulai masuk ke topik permasalahan.
“Lalu?” Saya masih menunggu apa yang ingin dikatakannya.
“Tapi saya mau minta kebijaksanaan. Semoga bisa dipertimbangkan.”
“Kebijaksanaan apa?”
“Kalo boleh saya pengn dapetin fasilitas asuransi di kantor ini.”
“Asuransi buat kamu?” tanya saya menegaskan.
“Ga buat saya aja tapi buat anak saya juga, Lena.”
Dan kemarahan saya pun meledak tanpa bisa ditahan lagi, “Masalah ini lagi? Sampai kapan kamu sadar hah? Saya ga mau lagi ngomong soal ini. Kamu ke luar sekarang dari sini.”
“Loh? Om Bud kok marah? Saya kan cuma nanya aja. Kalo ditolak ya gapapa tapi ga perlu Om Bud marah-marah kayak gitu.” sahut Maya hampir menangis.
“Asuransi di sini cuma buat manusia!!! Denger ga??? Ga ada asuransi buat binatang kaki empat!!!” bentak saya menggelegar.
Dengan mata berkaca-kaca dan suara melengking campur gemetar, Maya membalas bentakan saya dengan galak, “Anak saya juga manusia!!!”
Brak! Maya berlari ke luar sambil membanting pintu ruangan saya dengan kerasnya.
Astaghfirullah! Saya telah melakukan kesalahan besar. Lena kaki empat kan anaknya Si Iyus. Kalo anaknya Maya kan manusia biasa yang kebetulan namanya Lena juga. Hadoh Mampus deh saya. Pantes Mayanya nangis tadi….
Saya membanting pantat ke kursi. Rasanya letih lahir batin. Kayaknya saya harus cuti nih….